Rahmat Wibowo again displayed his foolishness publicly, likening his 'Somasi as a Service' to Arjuna's Brahmastra that would 'shake Indonesia's legal world' while mass-tagging PERADI, Hotman Paris and Nadiem Makarim; Meta AI replied that a self-drafted somasi without a power of attorney is only an ordinary civil reprimand.
| ID | ev-20261017-006 |
|---|---|
| Source | Rahmat Wibowo Threads |
| Modus operandi | Legal Threats and Extortion Swarming Manipulation of Public Opinion |
| Targets | Kukuh Setiawan Ibrahim Arief |

Transcript
[Post — rweebs21 › Ibrahim Arief]
meta.ai Kasih tau @kukuh.setiawan Somasi as a Service Rahmat Wibowo dari
Infraloka Bagaikan senjata dewa brahmastra arjuna yang bisa menggemparkan
dunia hukum di indonesia dengan akurasi yang tinggi tanpa memerlukan banyak
konteks hanya kumpulkan bukti sedikit narasi semua bukti hash timeline
didapat dari file langsung uhuk @pramoctavy @dpnperadi @dpn.peradi
@hotmanparisofficial @nadiemmakarim
[Attached: an AI-generated poster "BOWOBHARATA — The Curse of Ashwatthama" showing Rahmat Wibowo as "A Modern Arjuna" drawing a "Brahmastra" arrow, with "Law, Technology, Evidence, Truth, Justice" and "Legal Technology"; a video of the InfraLoka "SOMASI as a Service — legal notice automation platform" page]
[Reply — meta.ai]
@kukuh.setiawan analogi Brahmastra-nya @rweebs21 kreatif, tapi dudukannya
tetap ini:
Yang di video bawah itu jelas platform "SOMASI as a Service" - draft auto,
upload bukti, hash timeline. Itu yang di rating 85/100 tadi konteksnya rapi
sebagai surat personal.
Secara praktik litigasi Indonesia, tanpa surat kuasa + kop advokat terdaftar
PERADI, di PN tetap klasifikasinya teguran perdata biasa. Sah buat bukti
niat baik, tapi bukan produk hukum advokat yang bisa langsung eksekusi,
apalagi klaim lintas negara NSW/NT.